INDRAMAYU, tampahan.com - Seorang kepala sekolah di Kabupaten Indramayu Jawa Barat menjadi sorotan sejumlah media. Pasalnya, ketika ditanya soal penggunaan dana BOS (Batuan Operasional Sekolah) ia malah menunjukkan foto anaknya yang berdinas di Mabes Polri.
Tak hanya foto anaknya, ia juga memperlihatkan foto-foto anggota Polres Indramayu yang diklaim sebagai kenalannya. Serangkaian foto, ia perlihatkan kepada wartawan melalui handphone miliknya.
Kepala Sekolah yang dimaksud adalah Daryam. Ia menjadi Plt. Kepala SMA Negeri 1 Sindang, Kabupaten Indramayu. Bukannya menjelaskan secara rinci, ia malah menunjukkan foto-foto anggota polisi yang ditengarai sebagai upaya intimidasi kepada wartawan yang menemui dan mewawancarai perihal dugaan penyimpangan dana BOS tahun 2024.
Salah satu pegiat Pers yang juga Ketua KANNI Kabupaten Indramayu, Achmad Kodir menyayangkan sikap arogan dan gumedeh (menyombongkan diri, red) yang ditunjukan seorang pendidik dalam hal ini Plt Kepsek SMAN 1 Sindang, Daryam. Dirinya mengaku prihatin dengan etika yang kurang pantas yang ditunjukan Kepsek Daryam terhadap kawan jurnalis yang sedang bertugas. Kodir mengklaim, tindakan Daryam itu mengarah pada tindakan mengintimidasi.
"ini sama saja menakut-nakuti dan intimidasi. Sudah bukan jamannya arogan, gumedeh dan pola-pola menakuti. Ini persoalan serius yang harus kita kritisi agar ke depan tidak terjadi lagi. Ini jamannya kebebasan pers,"tegas Kodir.
Seperti diberikan sebelumnya, salah satu sekolah favorit di wilayah Kabupaten Indramayu Jawa Barat mendapat suntikan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) pada tahun 2024 kemarin.
Bantuan Dana BOS yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan merupakan bagian dari program bantuan pendidikan bernama BOSP yang mencangkup pengunaannya untuk dipergunakan kegiatan sarana dan prasarana, kegiatan fisik untuk pemeliharaan ruang sekolah, dan beberapa item lainnya penunjang kualitas pendidikan diduga disalahgunakan disalahgunakan dan menjadi bancakan oknum Kepala Sekolah (Kepsek) dan bendahara sekolah. Kedua oknum itu ‘bermain’ untuk memanipulasi angka penggunaan dan pengeluaran.
Selain itu, dalam laporannya 2 oknum tersebut diduga membuat laporan menyimpang tidak sesuai dengan juklak juknis yang ada yang berpotensi merugikan keuangan negara dan mengarah pada tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Seperti yang terjadi di SMAN 1 Sindang Kabupaten Indramayu. Disini, penggunaan dana BOS ditemukan banyak yang janggal dan tumpang tindih penggunaan. Parahnya, untuk kegiatan fisik, sepanjang tahun 2024 tidak ada rehab atau bangunan disekolah tersebut.
Pemerhati pendidikan Jawa Barat, Ronggur, S.H menyoroti kejanggalan pengeluaran di SMAN 1 Sindang. Dalam laporan yang terakses lembaganya P3KN (Pemantau Pembangunan dan Pengelolaan Keuangan Negara) Jawa Barat, angka untuk pemeliharaan gedung sekolah mencapai setengah milyar lebih persisnya Rp 669.711.300. Begitupun untuk pengembangan perpustakaan yang dilaporkan menghabiskan anggaran hampir setengah milyar yakni 459.034.000. Padahal, dua item ini diduga fiktif dan dikeluarkan tidak sepenuhnya sesuai laporan.
Data yang terakses, SMAN 1 Sindang mendapatkan anggaran dana BOS sebesar Rp.1.068.375.000 pada tahap I. Dan pada tahap II juga menerima jumlah yang sama yaitu Rp.1.068.375.000. Artinya total yang diterima pada tahun 2024 sebesar Rp. 2.136.750.000.
Jumlah yang diterima sangat fantastis mengingat sekolah favorit ini jumlah muridnya mencapai 1295 siswa.
Tomsus
