Salat Istisqa yang digelar pada Jumat (2/10) pagi itu diikuti jajaran aparatur sipil negara (ASN), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta berbagai elemen masyarakat.
Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengatakan, ikhtiar menghadapi kekeringan dilakukan melalui penanganan teknis di lapangan maupun doa bersama. Menurutnya, air merupakan kebutuhan utama masyarakat yang ketersediaannya juga dipengaruhi kondisi alam.
“Dalam kehidupan ini kita sangat membutuhkan air. Kita hanya bisa memohon, semua adalah kehendak Allah SWT,” ujar Aep usai pelaksanaan salat Istisqa.
Di sisi lain, Pemkab Karawang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Perumda Tirta Tarum dan program Corporate Social Responsibility (CSR) kawasan industri terus mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Hingga Oktober 2026, total bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 1,5 juta liter. Wilayah Karawang bagian selatan dan barat menjadi kawasan yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.
“Kurang lebih sampai bulan Oktober hari ini tuh sudah 1.500.000 liter air bersih yang didistribusi terhadap masyarakat di Kabupaten Karawang,” kata Aep
Untuk memperluas ikhtiar bersama, Pemkab Karawang juga mengimbau seluruh kecamatan menggelar salat Istisqa. Melalui Sekretaris Daerah, pemerintah daerah telah menerbitkan surat edaran agar para camat berkoordinasi dengan MUI kecamatan dan tokoh masyarakat untuk memfasilitasi pelaksanaan salat Istisqa di wilayah masing-masing.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan di halaman kantor kecamatan masing-masing.
“Insya Allah nanti seluruh camat yang ada di wilayah masing-masing untuk melaksanakan bersama MUI Kecamatan dan tokoh-tokoh masyarakat di halaman kantor kecamatan,” tutur Aep.
Selain penanganan darurat, Pemkab Karawang juga menyiapkan langkah jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air dan ketahanan pangan.
Untuk wilayah utara yang menjadi salah satu sentra pertanian Karawang, pemerintah daerah fokus pada perbaikan infrastruktur irigasi, termasuk pengerukan saluran sekunder serta koordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Sementara di wilayah selatan, Pemkab Karawang menyiapkan optimalisasi penampungan air alami maupun buatan. Salah satunya melalui rencana pengerukan sedimentasi embung pada tahun anggaran 2027 agar kapasitas penampungan air baku dapat kembali maksimal.
“Insya Allah nanti di tahun 2027 besok memang ada kegiatan pengerukan untuk tempat air yang sudah sedimen, jadi insya Allah pemerintah daerah tidak menjadikan ini kesulitan,” pungkasnya.
IKA
