Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pantauan jurnalis T. Nur Azmi, di lokasi menunjukkan deretan kendaraan mulai

Minggu, 26 Juli 2026 | Minggu, Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T01:55:01Z

TAMPAHAN.COM memadati jalan utama Kota Jantho setiap sore menjelang pukul lima. Beriringan menuju Gerbang Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh), para Aparatur Sipil Negara (ASN) meninggalkan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Besar ini dalam kesenyapan.


 Fenomena kota komuter yang hanya bernyawa selama delapan jam kerja kembali berulang, saat mayoritas pegawai memilih pulang-pergi dari Banda Aceh.


​Padahal, berdasarkan pengamatan di lapangan, Jantho menyimpan modal sosial dan daya tarik ekologis yang luar biasa lengkap. Di sektor pendidikan tinggi, kehadiran kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh menghidupkan iklim akademis dan ekonomi kreatif mahasiswa. Dari sisi pariwisata berbasis alam (ecogreen), Jantho menyajikan destinasi kekinian seperti Glamping Jantho Panorama Park hingga bentang alam asri.


 Dipadukan dengan ketersediaan air bersih, sekolah, hingga fasilitas olahraga megah Jantho Sport Center (JSC), Jantho sejatinya sangat ideal menjadi kota huni yang mandiri.  


​Lantas, mengapa potensi ini seolah belum cukup menahan warganya untuk menetap? Persoalan utamanya terletak pada ketiadaan ekosistem kehidupan yang terintegrasi secara 24 jam. Keberadaan kampus ISBI, sarana glamping, serta destinasi ekowisata masih berjalan secara sporadis dan belum tersambung secara utuh dengan denyut ekonomi harian masyarakat. 


Bangunan dan objek wisata hanyalah wadah, sementara konsistensi aktivitas harian, interaksi sosial, dan geliat ekonomi malam adalah isi yang membuat orang betah menetap.  


​Kondisi kota komuter ini memberikan dampak domino yang cukup berat bagi pelaku UMKM lokal. Perputaran uang dari gaji pegawai yang seharusnya menjadi mesin penggerak ekonomi daerah justru mengalir keluar (capital leakage). Warung makan dan kedai kopi hanya menikmati lonjakan omzet pada jam makan siang di hari kerja, lalu anjlok drastis saat malam tiba dan akhir pekan datang. Sektor jasa penunjang seperti kontrakan, laundry, katering rumah tangga, hingga industri kuliner lokal belum bisa memanen keuntungan secara optimal dari potensi wisata maupun kehadiran kampus yang ada.  


​Untuk mengubah keadaan ini, pendekatan pembangunan Jantho harus bergeser dari sekadar membangun fisik menjadi mengaktivasi ruang secara terpadu. Potensi ISBI Aceh dapat dirajut menjadi penggerak agenda seni dan budaya kota. Destinasi ekowisata dan Glamping Jantho Panorama Park dapat diposisikan sebagai jangkar eco-tourism, sementara area Jantho Sport Center dan alun-alun kota dihidupkan sebagai pusat kuliner malam (night market). Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memberikan kepastian kualitas pendidikan dasar anak serta skema hunian terjangkau bagi ASN baru.  


​Dengan memadukan keasrian daya tarik ekowisata, nuansa akademis ISBI Aceh, dan ketenangan lingkungannya, Jantho memiliki keunggulan komparatif yang tak tertandingi sebagai kawasan berbasis slow living di tengah makin padatnya Kota Banda Aceh. Ketika ruang publik diaktifkan, kegiatan seni budaya rutin digerakkan, dan ekosistem wisata terhubung dengan UMKM lokal, Jantho tidak lagi sekadar menjadi tempat persinggahan delapan jam untuk menggugurkan kewajiban kerja, melainkan menjelma menjadi kota huni yang benar-benar bernyawa.

×
Berita Terbaru Update

Teks ini tidak bisa dicopy.