Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bupati Tapsel Optimis Dalam Memulihkan Perekonomian Daerah Pascabencana, Genjot Produktivitas Lewat Varietas Padi Gamagora dan Demplot Cabai Merah bersama Bank Indonesia

Selasa, 03 Maret 2026 | Selasa, Maret 03, 2026 WIB Last Updated 2026-03-03T15:37:15Z

TAPANULI SELATAN, tampahan.com -  Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan terus menunjukkan optimisme dalam memulihkan perekonomian daerah pasca bencana besar yang melanda pada 25 November 2025 lalu. Meski ribuan hektare lahan pertanian terdampak, Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menegaskan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tidak perlu direvisi.


Hal tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri kegiatan tanam bersama bantuan demplot cabai dari Bank Indonesia Sibolga seluas setengah hektare atau 7.500 batang di Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Selasa ( 03/03/2026 ). 


Bantuan yang diperoleh dari klaster 2025 itu disalurkan kepada Kelompok Tani Dolok Marombun dengan varietas cabai F1 Hybrida Fulo produksi Bintang Asia, yang telah melalui masa pembibitan selama empat minggu.


Menurut Bupati, bencana 25 November lalu menyebabkan sekitar tiga ribu hektare lebih sawah mengalami gagal panen. Dengan rata-rata produksi 5,5 ton per hektare, Tapsel kehilangan sekitar 16.500 ton gabah, yang tentu berdampak pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), mengingat sektor pertanian menyumbang sekitar 43 persen terhadap perekonomian daerah.


“Kalau kita kehilangan tiga ribu hektare dengan rata-rata 5,5 ton per hektare, berarti kita kehilangan sekitar 16.500 ton gabah. Ini tentu berdampak dalam terhadap PDRB kita,” ujar Bupati.


Meski pemerintah telah membangun 2.038 unit rumah sesuai kriteria Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah warga terdampak secara ekonomi dinilai jauh lebih besar, terutama mereka yang lahannya rusak meski rumahnya selamat.


Untuk itu, Bupati meminta Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan kajian mendalam terhadap dampak bencana terhadap indikator makro ekonomi daerah sebagai dasar evaluasi kebijakan. Namun ia menegaskan, evaluasi bukan berarti menyerah.


“Saya bukan orang yang mudah menyerah. Hasil studi itu kita jadikan titik awal untuk melakukan berbagai terobosan dengan kerja keras dan kerja cerdas untuk menutupi potensi penurunan,” tegasnya.


Salah satu terobosan yang didorong adalah peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas unggul Gamagora, hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada. Varietas yang berasal dari kata “Gama” dan “Gogo Rancah” ini dinilai cocok untuk lahan tadah hujan dan mampu menghasilkan hingga 9,6 ton per hektare dalam masa tanam sekitar 90 hari.


Bupati memperkirakan, jika terjadi peningkatan produktivitas empat ton per hektare, maka diperlukan sekitar lima ribu hektare lahan untuk menutup kehilangan produksi 16.500 ton akibat bencana.


“Kalau belum bisa lima ribu hektare, minimal empat ribu hektare dulu kita kejar,” jelasnya optimistis.


Selain padi dan cabai, Bupati juga mengajak pemanfaatan lahan-lahan menganggur untuk hortikultura seperti timun guna mendukung kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.


Dengan sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, Bupati yakin pemulihan ekonomi Tapanuli Selatan dapat dipercepat tanpa harus mengoreksi target-target pembangunan yang telah ditetapkan.


“Saya yakin, dengan kerja keras, kerja cerdas, dan dukungan semua pihak, kita bisa bangkit tanpa harus merevisi RPJMD. Ini demi kepentingan masyarakat Tapanuli Selatan,” pungkasnya.


Sementara itu, perwakilan Bank Indonesia Cabang Sibolga Riza Putera menekankan pentingnya penguatan sisi suplai komoditas, terutama cabai yang menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi pada Desember 2025 pasca bencana. Melalui demplot ini, BI mendorong kelompok tani memahami teknik budidaya yang baik sekaligus aspek bisnis.( Samsul Hasibuan )

×
Berita Terbaru Update