Tangerang, TAMPAHAN.Com - Toko kelontong menjadi salah satu jenis usaha yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Keberadaannya membantu warga mendapatkan berbagai kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi jauh. Meskipun terlihat sederhana, menjalankan toko kelontong tetap membutuhkan pengelolaan yang baik, terutama dalam mengatur stok barang, melayani pelanggan, mengelola keuangan, dan membagi waktu kerja.
Salah satu usaha yang menjalankan aktivitas tersebut adalah Toko Almasir. Toko yang berdiri sejak 2023 ini dikelola oleh Rusman Almasir bersama keluarganya, yaitu Ida Parida dan anaknya, Risvi. Sejak awal berdiri, ketiganya saling membantu dalam menjalankan aktivitas toko sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dalam usaha yang dikelola keluarga, pembagian tugas biasanya tidak selalu dibuat secara formal. Begitu juga yang terjadi di Toko Almasir. Rusman sebagai pemilik bertanggung jawab terhadap pengelolaan usaha secara keseluruhan, mulai dari kebutuhan barang hingga keputusan yang berkaitan dengan toko. Ida Parida ikut membantu menjaga toko dan melayani pembeli, sedangkan Risvi turut membantu berbagai pekerjaan yang diperlukan.
“Kalau yang bantu memang keluarga sendiri. Jadi kita saling gantian kalau ada yang lagi ada keperluan. Yang penting toko tetap jalan dan pembeli juga bisa dilayani,” ujar Rusman Almasir. Ditemui belum lama ini.
Pola kerja seperti ini menjadi salah satu kelebihan usaha keluarga. Komunikasi antaranggota cenderung lebih mudah karena mereka sudah saling mengenal. Ketika toko sedang ramai, anggota keluarga dapat langsung membantu tanpa harus menunggu instruksi. Begitu juga ketika ada pekerjaan lain, seperti merapikan barang atau mengecek stok, pekerjaan dapat dilakukan bersama.
Ida Parida juga memiliki peran penting dalam aktivitas sehari-hari di toko. Selain membantu menjaga toko, keterlibatannya membuat pekerjaan yang harus dilakukan tidak hanya bergantung kepada pemilik. Dalam usaha kecil, kehadiran anggota keluarga yang ikut membantu menjadi salah satu bentuk dukungan yang cukup berarti.
“Namanya juga usaha keluarga, ya saling bantu saja. Kalau toko lagi ramai kita bantu layani pembeli. Kalau sepi bisa sekalian beres-beres barang,” ujar Ida Parida.
Namun, menjalankan usaha bersama keluarga bukan berarti selalu berjalan tanpa masalah. Perbedaan pendapat tetap bisa terjadi, terutama ketika membahas pembelian stok, penggunaan uang usaha, pembagian waktu, atau pekerjaan yang harus diprioritaskan. Kondisi tersebut membuat komunikasi menjadi hal yang penting agar persoalan dalam pekerjaan tidak berkembang menjadi persoalan keluarga.
Menurut Rusman, rasa saling percaya menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan usaha keluarga. Setiap orang yang terlibat harus memiliki rasa tanggung jawab karena usaha tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga merupakan usaha yang dibangun dan dijaga bersama.
Tantangan lain yang dihadapi adalah perubahan kebiasaan masyarakat. Saat ini konsumen semakin terbiasa menggunakan pembayaran digital dan mencari kemudahan ketika berbelanja. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil perlu mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal.
Keterlibatan Risvi sebagai generasi muda juga menjadi salah satu hal yang dapat membantu Toko Almasir menghadapi perubahan tersebut. Sebagai generasi yang lebih dekat dengan teknologi, Risvi dapat ikut membantu dalam penggunaan teknologi dalam kegiatan usaha, mulai dari komunikasi dengan pelanggan hingga mengenal berbagai cara baru dalam mempromosikan atau mengelola usaha.
“Kalau sekarang teknologi memang penting. Anak juga bisa bantu kalau ada yang berhubungan sama HP atau hal-hal yang lebih modern. Jadi kita sama-sama belajar,” ujar Rusman.
Bagi Risvi sendiri, membantu usaha keluarga bukan hanya soal menjaga toko. Kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman untuk memahami bagaimana sebuah usaha dijalankan dari bawah. Melayani pelanggan, melihat barang yang cepat habis, membantu pekerjaan orang tua, sampai memahami kondisi toko merupakan pengalaman yang tidak selalu didapatkan dari teori.
“Kalau ikut bantu di toko jadi tahu juga gimana susahnya menjalankan usaha. Jadi bukan cuma datang terus jualan, tapi banyak yang harus dipikirin,” ujar Risvi.
Dari sisi sumber daya manusia, Toko Almasir menunjukkan bahwa pengelolaan SDM tidak hanya menjadi persoalan perusahaan besar. Pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kualitas orang yang menjalankan usaha juga memiliki peran penting. Kemampuan bekerja sama, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan mau belajar menjadi bagian dari SDM yang dibutuhkan agar usaha dapat bertahan.
Hal tersebut semakin terlihat dalam usaha yang dikelola keluarga. Jumlah orang yang terlibat memang tidak banyak, tetapi setiap orang memiliki kontribusi. Ketika salah satu anggota tidak dapat membantu, anggota lainnya perlu mengambil alih pekerjaan. Karena itu, fleksibilitas dan rasa tanggung jawab menjadi penting dalam menjaga aktivitas toko tetap berjalan.
Selain persoalan SDM, pelayanan kepada pelanggan juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan Toko Almasir. Toko kelontong memiliki hubungan yang cukup dekat dengan masyarakat sekitar karena pelanggan yang datang umumnya berasal dari lingkungan sekitar. Pelayanan yang ramah dan hubungan baik dengan pelanggan dapat menjadi salah satu alasan konsumen kembali berbelanja.
Bagi Rusman, mempertahankan usaha tidak hanya tentang mendapatkan keuntungan. Menjaga kepercayaan pelanggan dan mempertahankan usaha agar tetap berjalan juga menjadi bagian dari tujuan yang ingin dicapai.
Sejak berdiri pada 2023, Toko Almasir telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya. Usaha tersebut memang tidak memiliki skala sebesar perusahaan atau pusat perbelanjaan, tetapi keberadaannya memperlihatkan bagaimana sebuah usaha keluarga dapat bertahan dengan mengandalkan kerja sama dan pembagian peran yang sederhana.
Ke depan, Rusman berharap Toko Almasir dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat sekitar. Ia juga berharap generasi berikutnya dapat ikut memahami dan meneruskan usaha yang telah dibangun.
“Harapannya ya toko ini bisa terus jalan, bisa berkembang, dan kalau bisa nanti anak juga bisa meneruskan. Yang penting usaha ini bisa bermanfaat buat keluarga,” ujar Rusman.
Pada akhirnya, cerita Toko Almasir menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal dan banyaknya barang yang dijual. Ada manusia di balik usaha tersebut yang setiap hari bekerja, melayani pelanggan, mengatur pekerjaan, dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
Rusman Almasir, Ida Parida, dan Risvi menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sumber daya manusia bekerja dalam sebuah usaha keluarga. Tidak selalu dengan struktur organisasi yang rumit atau aturan kerja yang panjang, tetapi melalui komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, dan kemauan untuk saling membantu.
Toko Almasir mungkin hanya sebuah toko kelontong bagi sebagian orang. Namun, bagi keluarga yang menjalankannya, toko tersebut merupakan hasil kerja bersama yang terus dijaga sejak 2023. Di balik rak-rak barang dan aktivitas jual beli setiap harinya, terdapat perjuangan sebuah keluarga untuk mempertahankan usaha dan membangun masa depan melalui usaha yang mereka jalankan bersama.
di susun oleh : Arya Dharma Yudangkara || Abu Rizal Miftah || Aisyah Shevilla || Alesa Rahmania Putri || Alven Shendy Edu Prastiya
( Sujono Siarif / H Abdul Basit )

