Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Midang: Tradisi Lebaran Kayuagung yang Bikin Rindu Pulang .

Selasa, 24 Maret 2026 | Selasa, Maret 24, 2026 WIB Last Updated 2026-03-24T05:20:32Z

OKI, TAMPAHAN.COM Di Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Lebaran tak hanya tentang ketupat dan opor ayam, atau sekadar berkumpul di ruang tamu. Ada satu momen yang selalu dinanti ketika rindu kampung halaman terobati lewat arak-arakan panjang yang disebut Midang.

.

Midang merupakan tradisi arak-arakan khas masyarakat Kayuagung yang dilakukan dengan berjalan kaki sambil mengenakan busana adat dan diiringi musik tradisional. Bagi pendatang, Midang mungkin terlihat seperti karnaval. Namun bagi masyarakat setempat, tradisi ini adalah cara untuk saling menyapa, mempererat hubungan, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun.

.

Setiap tahun, tepat pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri, Midang kembali digelar. Sebelas kelurahan ikut ambil bagian, menjadikan jalanan kota seperti panggung terbuka ramai, berwarna, dan dipenuhi langkah yang seirama.

.

Di sepanjang arak-arakan, para muda-mudi tampil dalam balutan busana adat kebesaran Kayuagung: Maju Setakatan, Maju Inti, Bengian Inti, hingga Manjau Kahwin. Kain songket yang berkilau, selendang yang menjuntai, hingga hiasan kepala yang sarat makna menjadi simbol kuat identitas budaya masyarakat Kayuagung.

.

Arak-arakan dimulai dari pembawa tanda kelurahan dan bendera merah putih, disusul anak-anak, lalu para bujang dan gadis, hingga iringan musik tanjidor yang menghidupkan suasana.

.

Secara umum, Midang terbagi menjadi dua bentuk: Midang Begorok yang hadir dalam hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta Midang Bebuke yang digelar saat Lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian penting dari rangkaian perkawinan mabang handak, yakni tahap ketika kesepakatan menuju pernikahan telah dicapai. Pada momen ini, calon pengantin diarak bersama bujang dan gadis dari kedua keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Ini menjadi penegasan bahwa keduanya telah berada dalam ikatan yang dijaga oleh adat dan diakui secara sosial.

.

Pada Senin, 23 Maret 2026, kemeriahan itu terasa lebih istimewa. Tradisi Midang Morge Siwe (sembilan marga) digelar di pelataran Pantai Love, tepian Sungai Komering, dan dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, H. Edward Candra, serta Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki.

.

Di tengah arus mudik, masyarakat tumpah ruah mulai dari warga lokal hingga para perantau yang pulang kampung. Suasana menjadi bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang temu bagi kenangan lama.

.

Dalam sambutannya, Edward menegaskan bahwa Midang Morge Siwe bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan warisan budaya yang terus dijaga.

.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” katanya.

.

Menurutnya, kekuatan tradisi ini terletak pada nilai yang dikandungnya.

.

“Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” tambahnya.

.

Ia juga mendorong agar tradisi ini terus dikembangkan.

.

“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.

.

Sementara itu, Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menyebut Midang sebagai kebanggaan masyarakat Kayuagung.

.

“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung,” ujarnya.

.

Ia juga menyoroti antusiasme masyarakat yang pulang kampung.

.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” katanya.

.

Di tengah kemeriahan, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban.

.

“Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan,” pungkas Muchendi. “Mudah-mudahan semarak Lebaran ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama.”

.

Kini, Midang bukan hanya milik masyarakat Kayuagung. Ia telah menjadi ruang bersama tempat orang datang, melihat, dan memahami bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman.

.

Lebih dari sekadar perayaan, Midang adalah cara masyarakat Kayuagung merawat ingatan dan bagi banyak orang, alasan untuk selalu pulang.( Nurlis )

×
Berita Terbaru Update

Teks ini tidak bisa dicopy.