Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rehab Jalan Jayamulya-Cipancu Rp 3,55 M Disorot, Warga Sipil Hitung Mandiri Sesuai AHSP!

Jumat, 29 Agustus 2025 | Jumat, Agustus 29, 2025 WIB Last Updated 2025-08-29T16:02:55Z

INDRAMAYU, tampahan.com - Ramai diberitakan Proyek Jalan Jayamulya-Cipancu Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat diduga  dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis. Kegiatan yang tentunya menelan biaya sangat besar dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Indramayu ini dituding oleh sejumlah pihak hanya meraup keuntungan semata, tanpa memperdulikan aspek kualitas dari hasil pekerjaannya.

Diketahui bahwa proyek Rehabilitasi Jalan Jayamulya-Cipancu Kecamatan Kroya, merupakan kegiatan yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp3,55 Miliar yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Indramayu.  


Berdasarkan informasi yang telah dilayangkan oleh sejumlah media lokal bahwa kontraktor diduga bermain pada sejumlah spesifikasi diantaranya pada besi tulangan  yang berfungsi sebagai penguat struktur beton.

 

Warga lokal Indramayu sekaligus pengamat konstruksi sipil, I. Fauzi  kepada wartawan, dirinya mencoba untuk melakukan Analisa pada kegiatan itu. Disampaikannya, bahwa analisa ini diharapkan menjadi bahan untuk pihak aparat penegak hukum baik itu kejaksaan maupun Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) untuk lebih jelih dan teliti saat melakukan audit pada kegiatan itu.


"Supaya temen-temen bisa faham tentang bagaimana analisa kegiatan rehabilitasi jalan dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor dan ini bisa menjadi catatan untuk kedepannya," kata dia, Jumat (29/08/2025).


Analisis ini ungkapnya,  berdasarkan informasi  yakni panjang 1,800 M dan lebar 3 meter dan tinggi 20 cm maka, beton  Readymix  yang dibutuhkan yakni sebanyak 1080 m³.  


" Angka itu sebenarnya baru hitungan teknis belum tentu pasti dilapangannya, kadang kontraktor ada  persiapan jika diterapkan kurang, kebutuhannya bisa ditambah 3-5 persen," ujarnya.


Untuk estimasi biaya ia mengungkapkan, merujuk kualitas beton yakni K300, dirinya mengambil sample harga di  plant JB  Ready Mix harga berkisar Rp1.250.000 per M³ maka jika kebutuhannya yakni 1080 M³ + 32 m³ (apabila ditambah 3 persen untuk antisipasi ), dalam kegiatan tersebut untuk belanja kebutuhan Readymix cor beton kurang lebih senilai  Rp1.350.000.000( cadangan biaya tambahan Rp40.000.000).


" Ini sifatnya estimasi  secara teknisnya, agar publik juga faham dan tidak asal melakukan dugaan kepada pihak rekanan," jelasnya.


Sebelumnya, bahwa dalam proses kegiatan pembangunan infrastruktur khususnya dijalan kata dia, ada pekerjaan persiapan mobilisasi dan demobilisasi, survei lokasi, Papan Informasi kegiatan, APD (K3) dan lainnya ini estimasinya antara Rp10 - 15 jutaan. 


Kemudian Laveling, atau proses awal yakni, perataan lahan disertai urugan pasir dan batu berdasarkan Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) PU SNI 7394:2008 atau AHSP Bidang Jalan. Diterangkannya, PU biasanya menggunakan faktor konversi material lepas → padat: Tanah biasa / urugan pilihan: faktor 1,20 – 1,25 yang artinya, untuk mendapatkan 1 m³ padat dibutuhkan 1,20–1,25 m³ tanah lepas.  Adapun untuk versi ringkasnya yakni Volume padat = 1.080 m³, kemudian volume lepas (faktor 1,25) = 1.350 m³ dan jika  ritase dump truck = ±193 rit (7 m³). Adapun untuk per ritase  truk muatan 7 m³  diperkirakan harganya senilai Rp 630.000 – Rp 840.000 / rit.  Ia ambil  tengah -tengahnyaa   yakni senilai Rp750.000 maka dikalikan dengan hitungan tadi yakni total kurang lebih senilai Rp144.750.000


" Dan catatan, hitungan ini jika, kontraktor berdasarkan spesifikasi versi AHSP PU," ungkapnya.


Kemudian, lanjut I Fauzi menganalisis yang kini tengah disorot oleh sejumlah pemberitaan tentang diduga kontraktor tersebut bermain pada besi tulangan dalam kegiatan rehabilitasi jalan Jayamulya-Cipancu.  Adapun analisanya meliputi sebagai berikut;

Merujuk pada data dasar : Panjang = 1.800 m, Lebar = 3,00 m,  kemudian hitung Luas = 1.800 × 3 = 5.400 m². Setelah itu, tebal slab = 0,20 m (asumsi).  Perhitungan tulangan = dua lapis (top + bottom). Panjang total slab arah panjang = 1.800 m, arah lebar = 3 m. Hitungan pembulatan jumlah batang pakai panjang standar 12 m/pucuk serta  tambahan waste = 3% untuk pemotongan & potongan.  Adapun untuk hitunganya, Opsi A — Ø10 mm @200 mm (kedua arah) — 2 lapis dengan Total panjang batang (2 lapis) = 111.606 m;  Berat per m (Ø10) = 0,617284 kg/m;  Berat kotor = 68.892,59 kg

Berat + 3% waste = 70.959,37 kg

Kemudian, Jumlah batang 12 m (tanpa waste) = 9.301 pucuk lalu apabila  Jumlah batang 12 m (dgn 3% waste) = 9.580 pucuk.  Estimasi  apabila harga   besi senilai  Rp 12.000/kg maka  biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor yakni kurang lebihnya senilai Rp851.512.444. 


" Jadi ini hanya sebatas hitungan dan bisa berbeda dengan RAB yang dikeluarkan oleh Dinas PUPR Kabupaten Indramayu serta dokumen penawaran yang diberikan oleh Kontraktor tapi memang umumnya merujuk pada AHSP PU," tegasnya. 


Kemudian untuk biaya tenaga kerja dan sewa alat berdasarkan Analisa, Ia mengungkapkan, bahwa ringkasan cepat atau estimasi per m³ (untuk pekerjaan pemadatan & rata)  yakni asumsi unit cost (alat + operator + tenaga = biaya kerja lapangan tempat pemadatan & perataan). Apabila digunakan skala Rendah (konservatif): Rp 24.000 / m³ dengan hitungan volume lepas = 1.350 m³ maka, 1.350 × 24.000 = Rp 32.400.000.  


Kemudian,  rincian alat berat + tenaga kerja berdasarkan hari kerja (lebih transparan) Asumsi produktivitas dan crew:

Volume kerja = 1.350 m³ (longgar), Produktivitas rata-rata tim (loader + roller + 1 crew) ≈ 100 m³/hari / Durasi ≈ 13,5 hari → bulatkan jadi 14 hari untuk keamanan lapangan.


Adapun untuk pekerjaan proses menuangkan cairan cor Readymix biasanya selesai dalam 5  hari apabila kontraktor ready secara keuangan (bonafit) hitunganya meliputi:  

-Mandor = 1 × 350.000 = 300.000/hari

-Tukang/Operator = 2 × 325.000 = 650.000/hari

-Tukang cor = 6 × 160.000 = 960.000/hari

-Pekerja bantu = 4 × 140.000 = 560.000/hari.  

Subtotal upah per hari = 300.000 + 650.000 + 960.000 + 560.000 = Rp 2.520.000 / hari  x 5  jadi, diperkirakan untuk   biaya  kurang lebihnya senilai Rp12.100.000. 


Ditambah dengan biaya sewa alat berat, Fauzi mengungkapkan, seperti 2 vibrator senilai Rp300.000/hari × 5  maka totalnya senilai Rp1.500.000. 

" Nah biasanya juga ada biaya lain-lain diluar RAB disediakan uang senilai Rp 5 jutaan," ungkapnya.


Kemudian sewa bekisting+ patok  untuk penyangga, maka sebelum dihitung terlebih dahulu kebutuhannya, dari panjang 1.800 meter. Ia menjelaskan,  untuk asumsi singkat ; Luas plat (koefisien plan) = 1.800 × 3 = 5.400 m²; tambah cadangan / overlap & pemotongan = +5% → 5.670 m² (area bekisting yang disewa).  Lalu, Panel bekisting umum dipakai ukuran 1,2 m × 2,4 m = 2,88 m² / panel  dan lama sewa diasumsikan seminggu maka, hitunganya 5.670 / 2,88 ≈ 1.969 panel dibulatkan menjadi 1.970 panel.  Sementara tarif sewa  diperkirakan wilayah Indramayu kata dia yakni senilai Rp 15.000/minggu untuk setiap panelnya maka kurang lebih senilai Rp1.970 × 15.000 = Rp 29.550.000 / minggu.


" Untuk Bekisting sebenarnya tidak tentu. Ada yang sewa dan ada juga yang sudah pernah terpakai namun masih dicantumkan didalam RAB atau dokumen penawaran," katanya


Kemudian plastik, dari hitungannya, untuk perkejaan untuk membutuhkan 32 roll  plastik berukuran   4 × 50 ( 200 m²/roll) dengan harga pasaran Rp180.000- 220.000/roll. Diasumsikan harganya 220.000/roll maka, biaya dibutuhkan yakni senilai Rp.7.040.000.


" Jadi ini hanya hitungan secara umum namun, masih ada juga kadang muncul  biaya tak terduga," terangnya.


Menurutnya,bahwa ada biaya safety bagi kontraktor yakni cadangan kurang lebihnya  Rp15-  50 juta. Hal itu  bertujuan, antisipasi apabila ada sesuai hal yang tentunya diluar dari perkiraannya seperti konsumsi dan lainnya.


*Analisa Laba Diluar Fee


Lebih lanjut, I Fauzi mengungkapkan, setelah dihitung berdasarkan AHSP PU diperkirakan jika pekerjaan itu   mengeluarkan biaya kurang lebihnya senilai  Rp2.533.852.444 dan  jaminan pemeliharaan 5 persen   dari  anggaran kegiatan atau senilai Rp177.234.150.


" Jadi, itu hanya prediksi  hitungan  secara mandiri berdasarkan dengan spesifikasi baik itu belanja beton K300, belanja besi Tulangan maupun belanja kebutuhan lainnya,"pungkasnya.


Disisi lain, salah seorang kontraktor sebut saja  Mr X mengungkapkan, terkait AHSP tersebut itu belum terhitung jika tidak ada fee  10-12 persen dari anggaran kegiatan. " Belum dihitung, jika ada fee mas, " ungkapnya.


Sementara itu, berita ini dimuat awakmedia telah berupaya mencoba menelusuri pihak kontraktor CV. RW untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut.


Sekedar mengingat, bahwa anggaran tersebut belum  belum dilakukan pemotongan perpajakan yakni PPN (Pajak Pertambahan Nilai ) 11 % serta PPh Final Jasa Kontruksi (sesuai PP 51/2008 jo.44 /2009) 2 % bagi penyedia jasa dengan kualifikasi kecil.  Diperkirakan kontraktor atau CV tersebut menerima pencairan  setelah selesai pekerjaan ialah sebesar Rp3.091.672.512.


Tomsus

×
Berita Terbaru Update

Teks ini tidak bisa dicopy.